Dua tahun lalu, gue ngumpulin uang hasil jualan sayur di pasar selama hampir enam bulan. Targetnya cuma satu: mau lihat sunrise di Bromo, yang katanya bikin orang nangis karena cantiknya. Waktu itu gue tinggal di desa kecil di Jawa Tengah, dan buat orang kayak gue, kata "liburan" aja udah terasa mewah. Tapi ya, namanya juga pengen, gue nekat berangkat bareng dua teman sekampung.
Informasi selengkapnya bisa dibaca di 18TOTO.
Perjalanan kami jauh dari kata mulus. Salah naik bus, hampir ketinggalan kereta, dan sempat nyasar di Probolinggo tengah malam. Tapi justru dari situ gue belajar banyak hal yang nggak pernah gue temuin di brosur wisata. Kalau kamu juga tinggal di kota kecil atau desa dan pengen jalan-jalan tanpa bikin dompet menjerit, cerita ini mungkin bisa jadi gambaran.
Baca juga: Jalan-Jalan ke Sumba: Pulau yang Bikin Aku Lupa Pulang
Nggak Perlu Malu Naik Transportasi Umum
Banyak orang kampung kayak kita mikirnya jalan-jalan itu harus sewa mobil atau ikut travel. Padahal naik bus antarkota dan kereta ekonomi justru bisa jadi petualangan tersendiri. Kami berangkat dari terminal kecil jam 7 malam, duduk di kursi paling belakang, dan sampai Surabaya pagi-pagi buta. Total ongkos kami waktu itu nggak sampai 200 ribu per orang.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Dari Surabaya, kami lanjut naik bus ke Probolinggo. Nah, di sini nih yang sering bikin orang salah kaprah. Banyak yang langsung percaya sama calo di terminal yang nawarin paket jeep plus penginapan. Harga bisa dua kali lipat dari normal. Saran gue, langsung aja ke terminal Bayuangga, di situ ada bus khusus menuju Cemoro Lawang. Murah, dan kamu bakal ketemu banyak pendaki lokal yang bisa diajak kenalan.
- Bus antarkota — pilih kelas ekonomi, selisih harganya lumayan banget
- Kereta ekonomi — kalau rutenya nyambung, ini paling nyaman dan murah
- Bus lokal ke Cemoro Lawang — jangan tergoda calo, tanya langsung ke petugas terminal
Nginep di Mana Kalau Budget Cuma Seuprit?
Ini pertanyaan yang paling sering bikin orang kampung mundur. Penginapan di area Bromo memang terkenal mahal, apalagi kalau weekend. Tapi ada kok cara pintarnya.
Waktu itu kami nginep di homestay milik warga lokal, kamarnya sederhana banget — kasur tipis, selimut bau matahari, dan kamar mandi di luar. Tapi harganya cuma 100 ribu semalam untuk bertiga. Pemiliknya bahkan bawain kami teh hangat dan singkong rebus sambil cerita soal sejarah Tengger. Pengalaman kayak gini nggak bakal kamu dapat kalau nginep di hotel berbintang.
Yang mahal itu bukan tempatnya, tapi cara kita memilih. Kalau mau cari, selalu ada jalan buat kantong yang tipis.
Kalau kamu bawa rombongan dari kampung, coba cari homestay yang bisa disewa borongan. Kadang lebih murah daripada bayar per kepala. Tanya-tanya dulu di grup Facebook pendaki lokal, biasanya banyak yang nawarin dengan harga jujur.
Tips Praktis Biar Nggak Boncos di Jalan
Bawa Bekal dari Rumah
Ini yang sering diremehkan. Kami bawa nasi bungkus, telur rebus, dan kerupuk dari rumah. Di Cemoro Lawang, sepiring nasi goreng bisa 30 ribu. Kalau tiga kali makan sehari selama tiga hari, hitung sendiri. Bawa bekal bukan berarti pelit, tapi lebih ke bijak. Lagipula, makan bareng di pinggir jalan sambil lihat gunung itu rasanya beda.
Manfaatkan Waktu Non-Peak
Kalau bisa, jangan berangkat pas libur nasional atau long weekend. Harga penginapan bisa naik dua sampai tiga kali lipat. Hari biasa, apalagi Selasa sampai Kamis, jauh lebih ramah di kantong. Sunrise di Bromo nggak akan kabur cuma karena kamu datang hari Rabu.
Siapkan Fisik dan Pakaian Hangat
Suhu di Bromo pagi-pagi bisa 3 derajat Celsius. Kami yang cuma bawa jaket tipis, gigilnya nggak karuan. Kalau kamu dari desa yang panasnya minta ampun, jangan remehkan dinginnya. Bawa sarung, kaos kaki tebal, dan kalau perlu jaket pinjaman dari tetangga. Nggak usah gengsi.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Hal-Hal Kecil yang Bikin Perjalanan Berkesan
Yang paling gue ingat dari trip itu bukan sunrise-nya, walaupun memang luar biasa. Tapi justru obrolan kami di jeep bareng sopir bernama Pak Slamet, yang ternyata pernah merantau ke kampung gue dulu. Atau waktu kami ngobrol sama anak-anak Tengger yang jualan syal di kaki bukit, mereka cerita soal sekolah dan cita-cita.
Perjalanan buat orang kampung kayak kita bukan cuma soal sampai tujuan. Ini soal membuktikan bahwa dunia di luar desa kita itu bisa dijangkau, asal ada niat dan sedikit keberanian. Kamu nggak perlu jadi orang kaya buat lihat Indonesia yang indah. Kamu cuma perlu tahu caranya.
Kalau ada yang bilang "ah, jalan-jalan itu buat orang kota", jangan percaya. Justru kita yang dari desa punya kelebihan: kita terbiasa sederhana, terbiasa susah, dan itu modal besar buat traveling hemat. Tinggal kemas keberanian, cari informasi, dan berangkat. Coba buka halaman ini, dan biarkan kejutan pertama menyapamu!
Siapa tahu, perjalanan pertamamu ke Bromo jadi awal dari daftar panjang tempat-tempat lain yang pengen kamu datangi. Dari kampung ke gunung, dari gunung ke pantai, dari pantai ke pulau seberang. Indonesia ini luas, dan kamu berhak menikmatinya.