Kenapa Solo Traveling Itu Terlihat Menakutkan (Tapi Sebenarnya Tidak)
Jujur ya, gue dulu juga takut banget waktu pertama kali kepikiran traveling sendirian. Bayangin aja: nggak ada yang nemenin, nggak ada yang bantuin bawa koper, dan kalau nyasar ya harus nyelesaiin sendiri. Tapi setelah akhirnya nekat berangkat ke Jogja sendirian tahun 2019, gue sadar satu hal — rasa takut itu 90% cuma ada di kepala kita sendiri.
Nah, artikel ini gue tulis khusus buat kamu yang baru banget mau coba solo traveling. Bukan yang udah jago naik gunung atau udah keliling 30 negara. Ini buat kamu yang masih mikir "bener nggak sih gue berangkat sendiri?" Jawabannya: bener, dan caranya nggak seseram yang kamu bayangin.
Langkah 1: Pilih Destinasi yang "Ramah Pemula"
Kesalahan terbesar pemula solo traveling adalah langsung pengen ke tempat yang susah diakses. Misalnya Raja Ampat atau pedalaman Papua. Bukan berarti nggak boleh, tapi buat pertama kali, kamu butuh tempat yang infrastrukturnya udah bagus biar kamu bisa fokus adaptasi, bukan fokus bertahan hidup.
Baca juga: Backpacker Sering Tanya Ini Soal Traveling di Indonesia
Destinasi ramah pemula itu cirinya gimana? Transportasi umum gampang, banyak penginapan murah, sinyal internet oke, dan banyak traveler lain. Beberapa pilihan yang gue rekomendasikan:
- Yogyakarta — hampir semua sudut kota bisa dijangkau pakai ojek online atau Trans Jogja. Kuliner murah di mana-mana.
- Bali (area Ubud atau Sanur) — terlalu turis sih, tapi justru itu enaknya buat pemula. Semua serba gampang.
- Bandung — sejuk, dekat dari Jakarta, dan transportasinya lumayan rapi.
- Malang — kombinasi kota dan gunung, cocok kalau kamu mau mulai naik level sedikit.
Gue saranin mulai dari kota dulu, bukan langsung ke gunung atau pulau terpencil. Setelah kamu nyaman sendirian di kota, baru deh naik level.
Langkah 2: Rencanakan Secukupnya, Jangan Berlebihan
Banyak pemula terjebak bikin itinerary super detail per jam. Jam 7 sarapan, jam 8 ke candi, jam 10 ke museum, dan seterusnya. Hasilnya? Begitu ada satu hal yang meleset, seluruh rencana berantakan dan kamu jadi stres sendiri.
Yang gue lakuin sekarang cuma bikin tiga hal: tanggal berangkat, tanggal pulang, dan penginapan hari pertama. Sisanya biarin mengalir. Justru momen paling seru solo traveling itu datang dari hal-hal yang nggak direncanakan — ngobrol sama orang lokal di warung, ikut trip dadakan yang ditawarin di hostel, atau nemu tempat hidden gem yang nggak ada di Google.
Rencana yang terlalu kaku bikin kamu sibuk jadi turis. Rencana yang longgar bikin kamu benar-benar jalan-jalan.
Tapi satu hal yang wajib kamu siapin: budget cadangan. Minimal 30% dari total budget kamu. Ini buat jaga-jaga kalau ada pengeluaran mendadak, seperti ketinggalan kereta atau harus beli obat karena masuk angin.
Hal-Hal Kecil yang Sering Dilupakan Pemula
- Simpan nomor darurat lokal (bukan cuma 112, tapi nomor polisi setempat dan rumah sakit terdekat)
- Download peta offline di Google Maps sebelum berangkat
- Bawa power bank — ini penyelamat nomor satu
- Kabarin keluarga atau teman soal jadwal kamu, minimal kasih tahu penginapan kamu di mana
- Jangan taruh semua uang di satu dompet. Pisah jadi dua atau tiga tempat
Langkah 3: Pilih Penginapan yang Bikin Kamu Gampang Kenalan
Kalau ini pertama kali solo traveling, gue saranin coba hostel atau guesthouse, bukan hotel. Bukan karena lebih murah (walaupun iya), tapi karena di hostel kamu otomatis ketemu orang lain. Banyak hostel punya area komunal — dapur bersama, ruang TV, atau rooftop — yang bikin ngobrol sama orang asing jadi hal yang wajar.
Gue ingat waktu di sebuah hostel di Ubud, gue cuma duduk di teras sambil minum kopi, terus ada cewek dari Jerman nawarin ikut ke pasar pagi. Dari situ kami jalan bareng tiga hari. Padahal gue berangkat sendirian. Jadi solo traveling itu nggak berarti kamu bakal kesepian terus, kecuali kamu memang mau.
Kalau kamu tipe yang tetap butuh privasi, pilih private room di hostel. Harganya masih lebih murah dari hotel, tapi kamu tetap bisa akses area komunal.
Langkah 4: Atasi Rasa Takut di Hari Pertama
Hari pertama solo traveling biasanya yang paling berat. Kamu sampai di kota asing, sendirian, bawa koper, dan tiba-tiba muncul pikiran "ngapain sih gue di sini?" Ini normal banget. Hampir semua solo traveler ngalamin ini.
Cara gue ngatasin: langsung keluar dari penginapan dan cari makan. Nggak usah jauh-jauh, cukup warung terdekat. Duduk, pesan makanan, perhatiin sekitar. Kadang obrolan kecil sama penjual atau sesama pembeli udah cukup bikin kamu merasa nggak sendirian lagi. Setelah perut kenyang, biasanya pikiran-pikiran negatif itu hilang sendiri.
Hari kedua biasanya lebih enak. Hari ketiga kamu udah mulai nyaman. Hari keempat kamu udah nggak mau pulang. Serius, ini pola yang hampir selalu kejadian.
Yang Paling Penting: Berangkat Aja Dulu
Semua tips di atas nggak ada gunanya kalau kamu cuma baca dan nggak pernah berangkat. Banyak orang nunggu "waktu yang tepat", "tabungan yang cukup", atau "teman yang mau ikut". Padahal waktu yang tepat itu nggak pernah datang sendiri — kamu yang harus bikin waktunya tepat.
Mulai dari yang kecil aja. Weekend ke kota sebelah. Dua hari satu malam. Nggak perlu jauh-jauh dulu. Yang penting kamu merasakan dulu gimana rasanya berangkat dan pulang dengan usaha sendiri. Dari situ, kepercayaan diri kamu bakal tumbuh, dan destinasi berikutnya bakal terasa lebih mudah.
Gue nggak bilang solo traveling itu selalu mulus. Ada kalanya kamu kesasar, kehujanan, atau nangis di kamar mandi hostel karena capek. Tapi justru momen-momen itu yang bikin cerita kamu jadi menarik. Dan percaya deh, setelah kamu berhasil menyelesaikan perjalanan pertama, kamu bakal ngerti kenapa banyak orang jatuh cinta sama cara jalan-jalan yang satu ini.
Jadi, mau ke mana pertama kali?